Hutan dan Hidup manusia

Mei 1, 2008 by risasyarif

Diakui atau tidak kondisi kehidupan berbangsa sampai tahun 2007 tidak banyak beranjak maju. Berbagai persoalan yang selama ini mencuat banyak yang tidak terselesaikan, bahkan beberapa di antaranya bertambah parah, salah satunya adalah kondisi lingkungan hidup yang bertambah buruk. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya dapat menimbulkan adanya krisis pangan, krisis air, krisis energi, dan lingkungan. Secara umum, dapat dikatakan bahwa hampir seluruh jenis sumber daya alam dan komponen lingkungan hidup di Indonesia cenderung mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu. Kerusakan ini merupakan indikasi betapa buruknya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Indonesia termasuk di bidang kehutanan.

Hutan, tanpa disadari memiliki peran yang sangat penting saat ini, keberadaannya memiliki berbagai fungsi antara lain adalah fungsi ekologi hutan, fungsi ekonomi hutan, dan fungsi sosial budaya hutan. Selama ini sebagian besar masyaakat Indonesia yang umumnya tinggal didaerah perkotaan dengan peradaban yang berkembang pesat hanya memandang keberadaan hutan sebagai salah satu kekayaan alam yang hanya cukup dinikmati sebagai wahana rekreasi saja, sebagian lagi yang memang mengetahui pemanfaatan hutan dari segi ekonomi, lebih lanjut ‘menguasai’ hutan-hutan Indonesia dengan legalisasi pemanfaatan hutan atau dengan menggunakan hak pengelolaan hutan (HPH), sedangkan tidak semua pemilik HPH menganut asas pengelolaan hutan secara lestari.

berbagai persoalan kehutanan di indonesia kian terakumulasi menjadi  isu yang beranjak global, pentingnya kesadaran masyarakat akan arti penting hutan minimal pepohonan yang ada dipekarangan rumah, menjadi tonggak utama. basis pendidikan kehutanan yang tidak proporsional telah mengalahkan keteguhan moralitas bangsa ini dalam memandang isu-isu kehutanan, bahkan sebagian besar masyarakat cenderung tidak peduli. beberapa orang yang saya temui cenderung mengatakan “bagaimana membangun hutan yang baik sedangkan kebiasaan kecil membuang sampah yang tepat saja masih belum bisa”- kendati demikian berbagai upaya telah dilakukan guna menumbuhkan sikap kecintaan terhadap lingkungan hidup, khususnya kehutanan, sekolah-sekolah alam didirikan guna membangun moral yang lebih baik dalam persiapan menghadapi keadaan dunia kehutanan dan lingkungan hidup indonesia dimasa yang akan datang.

masalah-masalah baru kemudian muncul, dengan melihat perkembangan moderenisasi negara ini, generasi muda \cenderung lebih selektif dalam melakukan pilihan-pilihan, tetapi parahnya pilihan-pilihan itu tidak didasari dengan tanggung jawab sebagaimana mestinya. sadar atau tida generasi muda saat ini edikit-demi sedikit mengalami degradasi moralitas yang berujung pada keterpurukan bangsa yang lebih buruk lagi. tidak adanya pendidikan formal tetang lingkungan hidup dan kehutanan menembah parah keadaan kehidupan berlingkungan saat ini. pemberian pendidikan kehutanan dan lingkungan pada tingkat universitas dirasa tidak lagi efektif karena kesadaran tentang pentingnya kehutanan dan lingkungan hidup terlambat datang. sehingga penting direnungkan pengembangan pendididkan kehutanan dan lingkungan serta sosialisasinya ditingkat SD, SMP, SMU, dengan formal bukan lagi sekedar muatan lokal atau ekstrakulikuler, karena sebagaimana kita sadari saat ini menjaga keseimbangan alam dapat mendukung pelestarian keanekaragaman haya yang termasuk didalamnya adalah manusia.

KEINGINAN!!mengapa menciptakan manusia

Maret 19, 2008 by risasyarif

“MENGAPA MENCIPTAKAN MANUSIA?”

pertanyaan malaikat bergema melalui refleksi kita. manusia, paling tidak dapat menarik sebagian penjelasannya dari apa yang sudah kita pelajari sejauh ini. Tuhan (Allah SWT) sesuai dengan sifat-sifatNya, tampak bermaksud menciptakan makhluk yang dapat merasakan eksistensiNya(rahmat, kasih, cinta, kebaikan, keindahanNya, danlainlain) melalui jalan yang paling personal dan palingtidak setingkat lebih tinggi jika dibandingkan dengan makhluk lain. kecerdasan dan kehendak yang telah diberikan kepada manusia disertai dengan usaha keras dan perjuangan yang harus dilakukannya dimuka bumi mempercepat perkembangan setiap orang dan inilah bagian dari sifat kemanusiaan tyang akan diikatkan kepada Tuhan dengan ikatan cinta.

kita harus melanjutkan dan mempelajari lebih dalam arah perjalanan ini supaya memperoleh pengetahuan yang lebih besar. tetapi sebelum melakukannya kita harus memikirkan kemungkinan bahwa kita bisa saja terpedaya sendiri, seperti salah memahami sesuatu sebagai bagian dari Al Quran, kita mungkin hanya memproyeksikan konflik pribadi kita sendiri kedalam Al Quran, padahal konflik ini yaitu tujuan akhir penciptaan manusia, tidak pernah secara tegas dinyatakan atau diangkat dengan sengaja di dalam Al Quran.

dan ketika kita mulai kembali dengan pandangan sinis kita yang darinya kita datang dan meragukan kesan pertama kita Al Quran kembali membuka topik tersebut.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan Kami, tiada lah Engkau mencitakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (3:91)

maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami. Mahatinggi Allah (untuk berlaku demikian), Raja yang sebenarnya”

tidak akan pernah ada jalan yang mudah bagi kita untuk melarikan diri, hal ini menjadi tantangan yang nyata bagi umat manusia. dan sisanya adalah keputusan ada ditangan kita, karena Al Quran sendiri menyatakan bahwa penciptaan kita didunia ini dengan tegas memiliki alasan. sebagai mana yang kita ketahui hidup adalah pengembangan hubungan tertentu antara Tuhan dan manusia. maka sangat tepat untuk mencari bagaimana sifat sifat manusia sebenarnya, apa yang Al quran kehendaki dan pesankan bagi manusia, maupun tentang sifat-sifat Tuhan dan bagaimana pengaruhnya bagi manusia.

berbaur bersama masyarakat

Maret 9, 2008 by risasyarif

hmm, udah 2 minggu ini saya berinteraksi penuh dengan masyarakat, bukan hanya sekedar senda gurau atau ngobrol biasa….. tapi juga pingin tau woro wiri yang ada di tubuh mereka yang saya juga adalah bagian didalamnya, saya sih enak bisa makan tidur nyenyak tapi entah itu uang siapa yang saya pakai, menjadi manusia yang tidak berguna beberapa saat lalu tapi kemudian bangkit karena kenyataan2 yang saya temui ditubuh masyarakat yang juga adalah saya, heemmm sulit ngungkapin semuanya, saya tak luput juga dari cercaan mereka lantaran dari segi perekonoian merekayang memprihatinkan dengan tega meminta sumbangan hah…

seandainya keadaan saya juga bisa dimengerti dan sayangnya kemampuan saya untuk berbakti pada negara ini masih belum apa2, buktinya adalah saya masih pake uang pajak untuk pendidikan yang saya emban tanpa bayar pajak

pp no 2 th 2008, masalah negara kita bukan cuma uang!

Februari 26, 2008 by risasyarif

hmmm, bagaimana ini hutan sudah gundul mau dirusak juga?? bencana kemanusiaan apa lagi nanti yang bakalan terjadi? udah banjir, badai, polusi udara, bolongnya ozon, de el el, baru kemaren ada cilame change conference tapi udah mau memalingkan wajah lagi!!! kita ini kok seperti bunglon ya jadinya, kenapa sih harus kaya gitu bisa dijelasin ga?? tidak punya masa depan yang cerah sepertinya anak cucu bangsa ini, mungkin bakalan kaya film-film animasi yang saya lihat dulu, yang judulnya submarine 06, disituh dikasih tau kalo hutan habis gunung pada meletus akhirnya bumi cuma bisa jadi planet dengan warna biru, dipenuhi air yang limpah ruah, gedung bertingkat, kekuasaan, kekayaan itu toh ga akan ada gunanya setelah bencana besar datang, dan bencana juga datangnya kan ndak pilih2 ya toh? harus memilih loh kita ini, dan harus mulai sadar bahwa alam kita ini setelah rusaknya ga bisa nyeimbangin dirinya sendiri dengan mudah, suksesi-suksesi yang terjadi juga ga akan membuat alam kita ini lestari pada tahap klimaksnya, manusia itu seharusnya tahu kan peranan ia dibumi ini buat apa, ‘ngontrak’ bentar doang di bumi ini sudah membuat sebagian dari kita sombong kah?, peraturan2 yang merusak itu hanya akan menguntungkan sebagian orang saja,kan?? bagaimana nasib masyarakat adat yang ga semua dari mereka memahami hidup berpolitik, berkeuangan, dll, mereka yang hidup murni dari hutan, halah gimana toh nasib alam eksotis indonesia ini?? mo jadi kandang kambing apa ya???

so story…..

Februari 22, 2008 by risasyarif

kepada Krisna…. 12 12 2007

Krisna, sekarang Aku pincang, hari-hari bersama kita sudah tidak memiliki arti, ya mungkin kamu akan kecewa seolah-olah Aku membuang dirimu dan mereka.

Krisna kalau sudah sampai aku pada batasku, aku mau pergi saja dari daerah ini. Aku mau pergi entah kemana, ‘kayanya’ aku memang sudah tiidak cocok berada disini. Kris, mungkin ini juga adalah surat terakhir dariku. jika kamu membaca surat-suratku yang lain mungkin kamu akan tahu kemana aku akan pergi.

Tapi Krisna, aku mohon jangan katakan semua itu pada orang tuaku. Sekarang tak banyak waktu yang aku punya, untuk selanjutnya aku tidak akan pernah menghubungimu lagi.

Tabunganku sudah mulai ‘menggunung’ , aku sudah bisa memasukan mobil-mobil tuaku ke asuransi-asuransi macam ‘adira finance’. Juga, sepertinya aku sudah bisa membeli jalan-jalan layang ..hah itu sudah pasti tidak mungkin.

Krisna, sekarang aku tahu bahwa aku sudah dewasa, hanya saja, hanya saja mungkin aku tidak mau menyadari semua itu, semua hal yang pastinya akan membebani hidupku. Ya, aku merasa terbebani, terbebani oleh hal-hal yang menyesakkan baik tentang kamu atau tentang mereka.

Krisna, sungguh jika aku bisa terbang aku ingin terbang memeluk semua harapan yang pernah kita bagi, walau kamu atau aku setengah hati. Jadi tolong lupakan aku dan hilangkan aku…

nb. jangan dibalas aku tidak akan baca surat dari mu atau menerima mu sebagai tamu

Sudah 40 lembar surat yang aku tulis tapi tidak ada satu pun yang aku kirim. Ah… aku terlalu malu ‘buat’ ngasih semuanya. aku mungkin saja ‘punya’ bakat untuk menulis novel. Pada suratku yang lain aku tuliskan perasaan gundah, betapa malunya. Kubaca disana, tertulis angka 38, rupa-rupanya suratku yang ketiga puluh delapan untuk Krisna…

 

Kepada Krisna… 12 11 2007

Aku sudah porak-poranda sekarang. Cermin yang dulu hanya retak disisi kirinya, yang sudah mulai kususun rapih-rapih, kulem dengan hati-hati, kini pecah semua, rusak dan berserakan dimana-mana. Entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi kurang hati-hati, aku juga terlalu lemah menghadapi cermin, terlalu lelah menghadapi retakan-retakan kecil itu…

Kini selagi aku sedang bersedih aku tulis lagi surat untukmu, disuratku yang ke 38 ini aku sudah ‘lumpuh’. Krisna, ternyata aku memang pincang, tanpa kamu dan mereka. Aku kian menjadi lumpuh, aku tulis ini dibawah ‘lilin hati’ yang kian meredup, entah kapan ia padam, yang pasti aku selalu menjaganya dengan hati-hati.

Tapi tidak lagi kini, ia akan kubiarkan padam saja,

ia akan kubiarkan padam saja, biar lengkap semua! ya kan? kaca pecah dan ‘lilin hati’ yang mati. lengkap sudah, aku uga kian menjadi gelisah, ku tulis dan lalu ku tulis, setiap lembar itu ada namamu, dan nama-nama mereka, tapi aku tidak berhasil juga. Itu tidak cukup untuk merangkai kaca-kaca menjadi cermin utuh lagi, tidak juga menjadi lilin yang kembali tinggi lantaran belum kusunut api. Itu semuanya tidak cukup, atau sekali-kali aku tengok saja kehidupanku kembali, padamu yang aku cintai dan mereka yang aku sayangi. Kalian sudah kecewa ‘mungkin’ rupa-rupanya.

T api aku tidak bisa menoleh kebelakang lagi, harus kuseleseikan sampai habis, sampai kaca-kaca itu bergabung menjadi cermin, walau retakannya nyata tapi aku akan terbiasa bercermin disana nantinya.

Tak apa walaupun tanpa engkau, tak apa. Eh, tiba-tiba saja ‘lilin hati’ itu menyala terang, ada apa gerangan? TUNGGU, sebaiknya tak kusia-siakan kesempatan ini, lebih baik kususun kembali cermin retak itu, hingga menjadi cermin yang utuh lagi, ah…

aku kian bersemangat, karena cahaya lilin itu begitu hebat, seperti cahaya kerinduan yang ada pada relung-relung aku ini, yang kian benderang tertuju hanya untuk seseorang, kalau begitu baiklah aku sudahi dulu suratku ini, dan lagi tintaku sudah habis, nanti kutulis ya g lebih bagus …heheh…

nb. maaf ya aku berkeluh…tapi aku ingin menjadi kuat kok!

Hmm, selesai membaca surat ketigapuluh delapan ku, kulipat kembali surat itu, lalu kuletakkan diatas meja belajarku yang kian lusuh, ia berwarna coklat tua, disana terlihat garis-garis horizontal dari kayu meja, gari-garis teras dari meja belajarku. Kemudian mataku tertuju pada salah satu amplop hitam, legam dan penuh dengan debu, hmm aku bertanya tanya apa gerangan surat itu. kini tanganku sudah berada diatas amplop hitam itu, tetapi….

bersambung…….