kepada Krisna…. 12 12 2007
Krisna, sekarang Aku pincang, hari-hari bersama kita sudah tidak memiliki arti, ya mungkin kamu akan kecewa seolah-olah Aku membuang dirimu dan mereka.
Krisna kalau sudah sampai aku pada batasku, aku mau pergi saja dari daerah ini. Aku mau pergi entah kemana, ‘kayanya’ aku memang sudah tiidak cocok berada disini. Kris, mungkin ini juga adalah surat terakhir dariku. jika kamu membaca surat-suratku yang lain mungkin kamu akan tahu kemana aku akan pergi.
Tapi Krisna, aku mohon jangan katakan semua itu pada orang tuaku. Sekarang tak banyak waktu yang aku punya, untuk selanjutnya aku tidak akan pernah menghubungimu lagi.
Tabunganku sudah mulai ‘menggunung’ , aku sudah bisa memasukan mobil-mobil tuaku ke asuransi-asuransi macam ‘adira finance’. Juga, sepertinya aku sudah bisa membeli jalan-jalan layang ..hah itu sudah pasti tidak mungkin.
Krisna, sekarang aku tahu bahwa aku sudah dewasa, hanya saja, hanya saja mungkin aku tidak mau menyadari semua itu, semua hal yang pastinya akan membebani hidupku. Ya, aku merasa terbebani, terbebani oleh hal-hal yang menyesakkan baik tentang kamu atau tentang mereka.
Krisna, sungguh jika aku bisa terbang aku ingin terbang memeluk semua harapan yang pernah kita bagi, walau kamu atau aku setengah hati. Jadi tolong lupakan aku dan hilangkan aku…
nb. jangan dibalas aku tidak akan baca surat dari mu atau menerima mu sebagai tamu
Sudah 40 lembar surat yang aku tulis tapi tidak ada satu pun yang aku kirim. Ah… aku terlalu malu ‘buat’ ngasih semuanya. aku mungkin saja ‘punya’ bakat untuk menulis novel. Pada suratku yang lain aku tuliskan perasaan gundah, betapa malunya. Kubaca disana, tertulis angka 38, rupa-rupanya suratku yang ketiga puluh delapan untuk Krisna…
Kepada Krisna… 12 11 2007
Aku sudah porak-poranda sekarang. Cermin yang dulu hanya retak disisi kirinya, yang sudah mulai kususun rapih-rapih, kulem dengan hati-hati, kini pecah semua, rusak dan berserakan dimana-mana. Entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi kurang hati-hati, aku juga terlalu lemah menghadapi cermin, terlalu lelah menghadapi retakan-retakan kecil itu…
Kini selagi aku sedang bersedih aku tulis lagi surat untukmu, disuratku yang ke 38 ini aku sudah ‘lumpuh’. Krisna, ternyata aku memang pincang, tanpa kamu dan mereka. Aku kian menjadi lumpuh, aku tulis ini dibawah ‘lilin hati’ yang kian meredup, entah kapan ia padam, yang pasti aku selalu menjaganya dengan hati-hati.
Tapi tidak lagi kini, ia akan kubiarkan padam saja,
ia akan kubiarkan padam saja, biar lengkap semua! ya kan? kaca pecah dan ‘lilin hati’ yang mati. lengkap sudah, aku uga kian menjadi gelisah, ku tulis dan lalu ku tulis, setiap lembar itu ada namamu, dan nama-nama mereka, tapi aku tidak berhasil juga. Itu tidak cukup untuk merangkai kaca-kaca menjadi cermin utuh lagi, tidak juga menjadi lilin yang kembali tinggi lantaran belum kusunut api. Itu semuanya tidak cukup, atau sekali-kali aku tengok saja kehidupanku kembali, padamu yang aku cintai dan mereka yang aku sayangi. Kalian sudah kecewa ‘mungkin’ rupa-rupanya.
T api aku tidak bisa menoleh kebelakang lagi, harus kuseleseikan sampai habis, sampai kaca-kaca itu bergabung menjadi cermin, walau retakannya nyata tapi aku akan terbiasa bercermin disana nantinya.
Tak apa walaupun tanpa engkau, tak apa. Eh, tiba-tiba saja ‘lilin hati’ itu menyala terang, ada apa gerangan? TUNGGU, sebaiknya tak kusia-siakan kesempatan ini, lebih baik kususun kembali cermin retak itu, hingga menjadi cermin yang utuh lagi, ah…
aku kian bersemangat, karena cahaya lilin itu begitu hebat, seperti cahaya kerinduan yang ada pada relung-relung aku ini, yang kian benderang tertuju hanya untuk seseorang, kalau begitu baiklah aku sudahi dulu suratku ini, dan lagi tintaku sudah habis, nanti kutulis ya g lebih bagus …heheh…
nb. maaf ya aku berkeluh…tapi aku ingin menjadi kuat kok!
Hmm, selesai membaca surat ketigapuluh delapan ku, kulipat kembali surat itu, lalu kuletakkan diatas meja belajarku yang kian lusuh, ia berwarna coklat tua, disana terlihat garis-garis horizontal dari kayu meja, gari-garis teras dari meja belajarku. Kemudian mataku tertuju pada salah satu amplop hitam, legam dan penuh dengan debu, hmm aku bertanya tanya apa gerangan surat itu. kini tanganku sudah berada diatas amplop hitam itu, tetapi….
bersambung…….